Herwanita : Siaran Sehat Berkualitas, Butuh penguatan di Regulasi dan Ruang Produksi

33
Herwanita Kpid Sulsel
Herwanita, S.Sos., M.I.Kom. - Koordinator Bidang Pengawasan Isi Siaran

KPIDSulsel — Pengurus Wilayah Fatayat NU Sulawesi Selatan bersama KPID Sulsel menggelar diskusi virtual bertajuk “Dilema Layar Kaca dan Tayangan Ramah Perempuan dan Anak” pada Minggu 21 Juni 2020.

Kegiatan Diskusi Media yang berlangsung beberapa jam tersebut menghadirkan beberapa narasumber diantaranya Komisioner KPI Pusat Mimah Susanti, Herwanita Komisioner KPID Sulawesi Selatan dan Andi Fadli Yusuf, Dosen Komunikasi, mantan praktisi media dan mantan ketua AJI Sulsel.

Dihadiri oleh pengurus cabang fatayat NU beberapa kabupaten, mantan praktisi media, masyarakat umum dan mahasiswa, diskusi tersebut berlangsung hangat karena partisipan didomiasi oleh para ibu-ibu muda dan orang tua yang mengkritik beberapa konten siaran di TV.

Herwanita, Komisioner Bidang Pengawasan Isi Siaran Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Sulawesi Selatan mengungkapkan bahwa untuk mewujudkan Penyiaran dan konten siaran yang sehat dan berkualitas butuh penguatan di beberapa poin, diatarannya penguatan regulasi, kesadaran sosial di ruang produksi isi siaran, selera publik dan pemirsa yang baik dan benar dan penguatan teknologi infrastruktur penyiaran.

“ Komisi Penyiaran pada prinsipnya hari ini tetap on the track dengan tupoksi sambil menunggu lahirnya payung hukum dan pengawasan khususnya revisi UU Penyiaran yang baru yang telah masuk prolegnas namun masih urung dibahas sampai hari ini, tentunya itu akan menjadi dasar pembaharuan Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran (P3SPS) yang bisa lebih detil mengakomodir tayangan ramah perempuan dan anak ” Ungkapnya

Sementara itu, Mutmainnah Syam kader fatayat NU Kota Makassar berharap lembaga penyiaran bisa memberikan tontonan yang mendidik dan bermutu bagi masyarakat. Karena menurutnya hari ini banyak tayangan sinetron yang sangat memberikan streotipe negative terhadap perempuan dan melanggengkan pemahaman pemahaman yang sangat bias gender.

“ Masyarakat butuh tontonan yang menarik tapi mendidik, bukan yang bisa memberikan efek negative terhadap generasi bangsa, kalau kami sebagai konsumen diminta untuk berdaya menyikapi media kami juga sebagai pemirsa berharap penyedia konten khususnya lembaga penyiaran bisa berdaya untuk menghadirkan tayangan yg lebih berkualitas” tegasnya.

Mimah Susanti mengapresiasi positif Fatayat NU Sulawesi Selatan jika bisa menjadi pionir organisasi perempuan dalam melakukan literasi media sampai ke tingkat grassroot. Menurutnya sangat penting mensosialisasikan ke masyarakat bagaimana menjadi publik dan pemirsa yang berdaya, mampu menyikapi isi media dengan benar.

“ Sambil kami sebagai regulator tetap berupaya mendorong lembaga penyiaran menyajikan siaran-siaran yang berkualitas, itu bisa dilihat di website KPI dan bisa menjadi referensi program-program apa saja yang memiliki indeks kualitas program yang berkualitas “ tambahnya.