Digitalisasi penyiaran: Era Baru Televisi Lokal

158
Era Baru Televisi Lokal

Oleh: Siti Hamidah,SE
Komisioner KPID Sulawesi Selatan

Masa pandemi,menjadi alasan berbagai pihak mengalami kemunduran dari berbagai sisi. Menjadi sangat sulit ketika sebelumnya dinamika bermasyarakat yang didominasi pada problematika politis,tetapi 2 tahun terakhir hampir semua orang dihadapkan dengan ketakutan akan gangguan kesehatan yang berdampak pada gangguan ekonomi dan sosial. Taraf hidup mengalami kemunduran perlahan dengan rotasi virus covid19 yang makin pariatif. Dengan ancaman persebaran yang begitu cepat justru memperlambat roda perekonomian.

Keputusan pemerintah dalam menekan persebaran virus Covid19 dengan melakukan pembatas kegiatan masyarakat dan memperbanyak aktivitas dirumah saja menjadikan televisi sebagai media hiburan yang sehat,informasi yang benar dan berimbang,control dan perekat sosial bagi masyarakat menjadi semakin akrab dinikmati di masa pandemi. Hasil pantauan Nielsen TAM di 11 kota menunjukkan rata-rata kepemirsaan TV mulai meningkat sejak maret 2020 rata-rata rating dari 12% di tanggal 11 Maret menjadi 13,8% di tanggal 18 Maret atau setara dengan penambahan sekitar 1 juta pemirsa TV. Dari sisi lain peningkatan jumlah perimsa TV justru tidak seimbang dengan tantangan yang dihadapi lembaga penyiaran dalam memproduksi konten siaran. Namun komitmen melakukan siaran untuk kepentingan publik merupakan pertanggung jawaban atas frekwensi yang digunakan lembaga penyiaran.

Proses penyelenggaraan penyiaran tidak hanya dibutuhkan kreativitas sumber daya manusia melainkan membutuhkan oprasional sebagai sumber penunjang produksi konten siaran. Di Sulawesi Selatan selama masa pandemi dalam penyelenggaraan penyiaran disiasati dengan berbagai pilihan untuk bertahan dan tidak sedikit memilih untuk berhenti. Dalam pelaksanaannya keputusan terberat pemberhentian sumber daya manusia hingga pengurangan durasi siaran untuk tugas melayani masyarakat. Hal tersebut dihadapi nyaris seluruh lembaga penyiaran tak terkecuali lembaga penyiaran lokal.

Keberadaan lembaga penyiaran lokal sedapat mungkin mengangkat potensi lokal dalam berbagai sektor penyiaran, mulai dari kepemilikan, penggunaan sumber daya lokal hingga isi siarannya sesuai dengan amanat undang-undang no 32 tahun 2002.
Lembaga penyiaran lokal tentunya sarat akan program siaran lokal yang ada di tempat stasiun tersebut berada, sehingga banyak stasiun TV membuat program yang dikemas dengan budaya masyarakat setempat. Program ini membuat budaya yang ada ditempat stasiun TV berada tetap terjaga dan di lestarikan. Lembaga penyiaran lokal sebagai pemantik ketertarikan masyarakat dalam melihat potensi dan budaya kedaerahaan, Namun tidak menutup kemungkinan menjadi media sumber inpirasi bagi investor yang ingin mengangkat ataupun mengembangkan sumberdaya alam daerah baik dari sektor pariwisata, industri, politik dan lain-lain.

Peran lembaga penyiaran lokal menjadi garda terdepan sebagai media pelestari budaya lokal tentu menjadi semakin menantang ketika dihadapkan dengan integrasi media digital yang semakin berkembang. Didalam dunia penyiaran tentu tidak tinggal diam dalam menghadapi konfergensi media. Migrasi TV analog ke tv digital adalah upaya integrasi media penyiaran dalam menyajikan konten dengan metode yang lebih kekinian seperti yang termuat dalam Peraturan Kementrian Kominfo no 6 tahun 2020 Bab III tentang penyelenggaraan penyiaran jasa penyiaran televisi dengan teknologi digital melalui tereatrial.Lembaga penyiaran tentu akan mengambil peran dalam pengelenggaraan Migrasi TV analog ke TV digital ini.

Terdapat 18 permohonan pendirian lembaga penyiaran baru di KPID Sulawesi Selatan yang ingin melakukan siaran TV digital sejak tahun 2013. Terdapat pula lembaga penyiaran yang sebelumnya sudah terdaftar di KPID Sulawesi Selatan dan bermohon untuk melakukan migrasi tv analog ke tv digital yaitu 18 lembaga penyiaran swasta dan 4 lembaga penyiaran publik lokal. Ada 3 pemenang mux di Sulawesi Selatan yaitu TVRI,RCTI,dan Metro TV yang akan memfasilitasi masing-masing 8 kanal untuk lembaga penyiaran yang ingin bergabung. Ini menjadi peluang besar bagi lembaga penyiran lokal khusunya dalam mengisi kanal-kanal tersebut sebagai upaya memperkuat eksistensi dan menjadi manifestasi dari kekayaan sumberdaya lokal. Migrasi tv digital ke analog adalah peluang besar dalam menghidupkan kembali semangat penyiaran lokal dalam terpaan masa pandemic dengan kemasan yang lebih kekinian.

Di kota Makassar terdapat 3 lembaga penyiaran lokal. Beberapa waktu terakhir 2 dari 3 lembaga penyiaran lokal tersebut terlihat lesu, menjadi pertanyaan bagi penikmat setia lembaga penyiaran tersebut. Dalam kondisi pandemi menjadi hal yang tidak asing ketika perusahaan mengalami kesulitan oprasional. Namun, setelah dilakukan evaluasi oleh KPID Sulawesi Selatan justru ada hal yang mengherankan yang dilakukan oleh lembaga penyiaran tersebut. “Setelah kami pindah tempat,kami berfikir untuk melakukan persiapan berpindah ke TV digital bahkan kami sudah bermohon ke salah satu pemenang mux sembari mempersiapkan infrastruktur digital”ucap direktur Salah satu lembaga penyiaran lokal yang di evaluasi, begitu pula yang disampaikan direktur Lembaga penyiaran lainnya yang juga di evaluasi “dalam kondisi pandemi lembaga penyiaran sedang sulit,kami mengupayakan akan bergabung dengan tv digital dan mulai membangun komunikasi dengan pemenang mux walaupun saat ini kami sedang dihadapkan dengan pemutusan kontrak yang tentu menjadi kendala oprasional kami”. Sebuah apresiasi ditengah keterbatasan biaya dan sumberdaya nyatanya lembaga penyiran lokal tersebut justru melakukan persiapan dalam migrasi TV analog ke TV digital,mengupayakan persiapan infrastruktur dan cost sewa mux lembaga penyiaran lokal tersebut menyambut ASO dengan penuh harapan. Pilihan bertahan dengan keterbatasan serta upaya menyukseskan migarasi TV analog ke TV digital adalah bentuk ikhtiar Lembaga penyiaran lokal dalam membangun penyiaran yang berkemajuan.