KPI dan DPRD Jateng Antisipasi Ketidaksiapan Masyarakat Hadapi ASO

103

Rencana perpindahan dari siaran TV analog ke TV digital atau ASO (Analog Switch Off) di akhir tahun ini, menjadi pokok bahas dalam pertemuan KPI Pusat dengan DPRD Provinsi Jawa Tengah, Senin (7/2/2022). Muncul kekhawatiran terkait minimnya persiapan masyarakat menghadapi migrasi siaran tersebut. DPRD menyampaikan banyak masyarakat daerah yang belum tahu kapan waktu siaran tersebut akan beralih.

Tidak hanya soal waktu, persoalan ketersediaan STB (set top box) dan mekanisme pendistribusian ikut dikeluhkan. Belum ada kecocokan data antara data pusat dan di daerah menyangkut penerima STB untuk masyarakat menengah ke bawah atau miskin.

“Kita masih mengalami masalah dengan pendataan masyarakat miskin. Belum ada kecocokan data antara data di pusat, daerah dan provinsi. Data yang dipakai kementerian sosial, berbeda dengan yang ada di daerah. Bisa jadi dalam satu rumah itu ada beberapa anggota keluarga. Artinya, bisa lebih dari satu KK,” kata Mohamad Soleh.

Menurutnya, diperlukan sosialisasi terarah dan berkelanjutan yang dilakukan Kominfo di daerah menyangkut distiribsi STB. “Mumpung masih ada waktu untuk antisipasi. Kalau alatnya banyak tidak masalah. Tapi kalau alatnya sedikit ini akan jadi masalah. Hal ini menjadi bahasan kami antara Kabupaten dan Kota. ASO ini tujuannya bagus tapi jangan sampai masyarakat tidak bisa lihat TV. Jangan sampai tiba-tiba dimatikan mereka tidak tahu,” tutur Soleh.

Sementara itu, Komisioner KPI Pusat, Mohamad Reza, mengatakan posisi KPI menyambut ASO ikut menyokong sosialisasinya. Namun begitu, KPI tetap menyampaikan berbagai masukan termasuk mengenai mekanisme penyaluran STB termasuk membentuk gugus tugas wilayah. Sayangnya, upaya ini tidak berjalan dengan mulus karena salah pemahaman.

“Saya sering sampaikan kepada pusat untuk berkoordinasi dengan kominfo daerah. Selain itu, penting dibentuk posko ASO di setiap kabupaten, sebagai tempat masyarakat untuk mengadu soal migrasi ini. Hal ini sangat penting untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak kita inginkan,” kata Echa, panggilan akrabnya.

Selain itu, penanganan distribusi STB harus dilakukan secara tepat, detail dan terstruktur. Pasalnya, tidak semua daerah itu karakter dan kondisinya sama secara ekonomi. Hal ini tidak boleh disamakan, kata Reza.

Reza menuturkan, pihaknya telah mengupayakan sosialisasi ASO ini secara maksimal. Salah satunya mendorong media penyiaran untuk ikut terlibat. “Kami mengapresiasi TV-TV yang membantu sosialisasi ini. Beberapa upaya yang dinilai efektif mengajak masyarakat pindah ke siaran digital adalah dengan memasukan konten-konten populer atau killer konten setiap TV dalam siaran digitalnya,” pintanya.