Sambut Siaran TV Digital, KPI Minta Masyarakat Pastikan Daerahnya Terjangkau Siaran FTA

31

Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) mengingatkan seluruh masyarakat untuk memastikan terlebih dahulu ketersediaan layanan siaran TV free to air (FTA) di masing-masing wilayah tinggal. Pasalnya, jika layanan siaran TV FTA tak sampai atau tidak ada di daerah tersebut, dipastikan layanan siaran TV digital yang akan dimulai pada akhir April ini tidak akan diterima.

Hal itu disampaikan Komisioner KPI Pusat, Mohamad Reza, saat menjadi narasumber Pertunjukan Rakyat “Siap TV Digital, Menuju Rakyat Indonesia Terkoneksi, Semakin Digital Semakin Maju” yang diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) untuk wilayah Kabupatan Nagekeo dan Ende, Nusa Tenggara Timur (NTT), Kamis ( 8/4/2022).

Reza mengatakan, jika masyarakat di wilayah Nagekeo dan Ende belum menerima siaran TV analog dari stasiun TV manapun lewat FTA, hal ini harus segera dilaporkan. “Mumpung ada Kepala Dinas Kominfo dan mumpung ada Tim dari Kemenkominfo bersama Bapak Bupati untuk meminta perluasan layanan siaran TV atau siaran free to air di wilayah Nagekeo dan Ende,” katanya.

Menurut Reza, perluasan wilayah siaran digital di wilayah tanpa siaran FTA dimungkinkan karena penggunaan teknologi single frekuensi network. Teknologi ini dapat disertakan dengan pembangunan stasiun relay dari satu daerah ke daerah lainnya.

“Jadi agak mudah menggunakan sistem ini karena kita membuat stasiun infrastruktur relay dari satu daerah ke daerah yang lain. Karena frekuensinya memungkinkan menggunakan frekuensi yang sama. Jadi secara teknologi itu mudah,” jelas Echa, penggilan akrabnya.

Namun begitu, kata Koordinator bidang Pengelolaan Struktur dan Sistem Penyiaran (P2SP) KPI Pusat, perlu upaya bersama mulai dari pemerintah daerah, tingkat Provinsi, KPID, dan Kominfo, untuk menghadirkan kepastian siaran di titik blank spot di beberapa wilayah Indoensia.

“Seharusnya ini lebih mudah teratasi dengan adanya layanan digital. Kita bisa mencontoh apa yang diterapkan di Makkasar. Mereka biasanya bersiaran dengan power 10 hingga 20 ribu watt, tapi lewat siaran digital dengan angka segitu jadi lebih luas jangkauannya. Dengan adanya upaya pengadaan infrastruktur jadi lebih memudahkan siaran digital masuk ke daerah,” ujarnya Echa.

Di tempat acara, saat memberi sambutan, Bupati Nagekeo, Johanes Don Bosco, menyambut baik pelaksanaan ASO di Nagekeo. Menurutnya, ada peluang besar yang dapat dimanfaatkan daerah dari peralihan sistem siaran tersebut.

“Nagekeo hari ini mendapatkan peluang untuk mulai migrasi dari tv analog ke tv digital. Itu sebuah bentuk nyata dari kemajuan literasi dasar. Literasi digital itu menentukan kita agar dunia mengenal Nagekeo dari manusia, alam, budaya dan produk budaya,” katanya.

Melalui ASO, lanjut Bupati, masyarakat berkesempatan untuk mengembangkan diri, memperkenalkan budaya, memperkenalkan produk UMKM agar bisa bersaing dalam dunia pariwisata yang sedang berkembang di Indonesia tak terkecuali di Bali Nusa Tenggara, lebih khusus di Flores Lembata NTT.

Menurut Johanes, melalui TV digital masyarakat dapat mengenalkan semua produk mulai dari budaya, nyanyian, tarian, handicraft sampai UMKM yang terus didorong oleh Pemkab Nagekeo untuk diproduksi oleh masyarakat agar dikenal oleh pasar, baik di Flores, Bali Nusa Tenggara, Indonesia dan dunia.

“Era digital sudah datang, era digital sudah di depan mata. Dan acara hari ini, saya mengajak semua yang hadir secara offline maupun online agar bisa mempersiapkan diri mengembangkan diri mewartakan kepada semua kenalan, saudara, melalui jejaring yang ada agar kita siap menggunakan sarana teknologi informasi dan komunikasi yang tersedia, sehingga pada saatnya kita dapat mewujudkan Nagekeo The Heart of Flores,” tandas Johanes.