Perlu Penguatan Eksistensi Perempuan dalam Industri Penyiaran

23

Sidoarjo — Partisipasi perempuan dalam setiap aspek penyiaran sangat penting sekaligus menentukan. Karenanya, kontribusi dan kehadiran perempuan baik sebagai regulator, pimpinan media, maupun sebagai penonton yang kritis, mesti diperbanyak.

“Kita semua mengetahui bahwa perempuan merupakan penentu dalam penyiaran. Semakin banyak perempuan yang hadir dan aktif dalam penyiaran, diharapkan keluarga di Indonesia mampu memilih siaran yang baik juga bagi arah industri penyiaran kita,” kata Komisioner KPI Pusat, Nuning Rodiyah, saat menjadi pembicara di Konferensi Nasional Administrasi Negara (Sinagara) 2022 yang digelar di Swiss Bell-Inn Airport Surabaya pada Rabu (31/8/2022).

Dalam acara bertajuk “Kepemimpinan, Tantangan, Peluang, dan Implikasi Publicness Pasca Pandemi” yang merupakan prakarsa dari UPN Veteran Jawa Timur dan gabungan perguruan tinggi lain, Nuning menyampaikan data masih sedikitnya perempuan yang berpartisipasi sebagai regulator (Anggota KPI). Padahal, sebagai salah satu instrumen pengawasan dan partisipasinya di bidang penyiaran, perlu keterlibatan perempuan sebagai wakil masyarakat di KPID.

“Tercatat hingga saat ini terdapat setidaknya empat KPI Daerah yang belum terdapat perempuan sebagai regulator di dalamnya. Karenanya, kehadiran perempuan perlu ditingkatkan sebagai regulator,” imbuhnya.

Kehadiran perempuan dalam industri dan konten siaran khususnya televisi juga tak jauh beda. Berdasarkan catatan Nuning, masih sedikit perempuan yang memegang peran strategis dalam industri kreatif ini. Sebagai contoh, tercatat hanya ada tiga perempuan yang memimpin stasiun televisi dari 18 stasiun TV berjaringan nasional yang diawasi oleh KPI Pusat, katanya.

Minimnya perempuan dalam jajaran elit di TV, sedikit banyak memengaruhi isi siaran lembaga penyiaran tersebut. Tidak jarang ditemukan dalam siaran posisi perempuan hanya sebagai obyek. Perempuan juga dalam konten siaran kerap mendapat stereotipe negatif, mengalami diskriminasi, menjadi korban atau pelaku kekerasan, dan sering diletakkan secara subordinat.

“Banyak yang menyampaikan bahwa acara yang dipandu oleh perempuan dengan busana tertentu justru lebih menarik dan meningkatkan rating,” ungkap Nuning menjelaskan salah satu contoh permasalahan perempuan dalam penyiaran.

Melihat kompleksitas permasalahan yang tinggi ini, Nuning berharap semakin banyak perempuan yang memegang posisi sentral dalam penyiaran. Baik partisipasi sebagai regulator, pelaku industri penyiaran, pengisi program, hingga menjadi penonton yang mampu memfiltrasi konten siaran yang lebih baik lagi.

Jika kontribusi ini meningkat, tentunnya akan menguatkan keterwakilan perempuan dalam pengawasan siaran dan pemenuhan hak atas informasi bagi perempuan di dalamnya. “Dengan hadirnya perempuan lebih banyak sebagai regulator penyiaran atau posisi strategis, maka akan lebih mampu menerjemahkan kepentingan perempuan di dalam dunia penyiaran itu sendiri,” ujar Nuning.

Dalam kesempatan itu, Nuning menyampaikan kondisi sekarang yang makin karena penetrasi internet yang makin tinggi dalam kehidupan masyarakat Indonesia yang membuat penyiaran perlu dikembangkan dari segala sisi. Namun begitu, beralihnya ketertarikan khalayak dengan media baru tidak serta-merta menjadi ancaman bagi pelaku industri penyiaran. Hal ini dikarenakan kondisi sekarang yang memungkinkan konten di media penyiaran sebagai media arus utama berpindah ke media yang baru. Sehingga kemampuan literasi dan partisipasi masyarakat dalam pemilihan dan pengawasan konten menjadi kunci di era digitalisasi ini.

Sebelumnya, di awal acara, dilakukan penandatanganan kesepahaman kerja sama antara KPI Pusat dengan UPN Veteran Jawa Timur tentang kerja sama gerakan literasi, penelitian, program kemahasiswaan, hingga pengawasan kebijakan publik khususnya terkait kebijakan penyiaran. Penandatanganan perjanjian tersebut dilakukan oleh Nuning Rodiyah selaku wakil dari KPI Pusat dan Wakil Rektor UPN Veteran Jawa Timur, Sutiyono.

Turut hadir di acara, Wakil Bupati Lumajang, Indah Amperawati Masdar, Nurlilah Nurdin selaku Direktur STIA LAN Jakarta, Indrawati Yuhertiana, Ketua LP3M UPN Veteran Jawa Timur, Dosen dan Mahasiswa.